cerita lebaran pertamaku di amerika (1)
Sunday, October 14, 2007
1stly and the most importantly, sujud syukur kepada Allah
atas lebaran yang aku dapetin tahun ini..
.
Seminggu yang lalu, aku dan temen2 muslim-muslimah di sekolah udah mulai ngomongin rencana lebaran masing2. Kami excited banget ngomonginnya (apalagi aku sendiri, hehe). Haadea, tmen muslimahku yang asli Pakistan itu, mengundangku serta Zuleikha, Shazeena, dan Rebecca (host sisterku) ke Henna Party di rumahnya pas malem takbiran (Jum'at, 12/10/07). Temen-temen muslimku yang lain juga excited sama lebaran tahun ini. Amadou dan Mohamed, yang juga muslim, mereka juga mulai cerita2 tentang rencana Eid. Mohamed yang masih ikut ngebela football teamnya pas hari terakhir ramadan, berencana mau berlebaran ke luar kota. Amadou, berencana mau mengunjungi sanak saudaranya yang tinggal nggak begitu jauh. Pokoknya semarak menjelang Eid di sini alhamdulillah kerasa juga!
.
Akhirnya Lebaran yang ditunggu2 datang juga...
Zuleikha, Shazeena, Rebecca, Haadea, dan aku yang satu sekolah di Shaker Heights, ber-henna-ria di rumah Haadea, bareng sama temen2 ibunya Haadea yang lainnya. Mereka adalah orang-orang asli Pakistan dan India yang tinggal di Amerika. Ansa dan Shah Khan, temen baruku yg aku kenal dari mesjid Baitul Ahad, juga datang ke sana. Mereka memakai baju dari India yang indah dan cantik banget. Aku dan Rebecca jadi ngerasa paling undressed soalnya cuma pake celana jeans, kaos, dan sweatshirt, sementara yang lainnya pada pake baju2 india yang colorful dan menarik mata. Bu Farhana, ibunya Haadea, nyanyi2 lagu India diiringi gendang India. Beberapa dari lagunya pernah aku denger waktu aku masih di Indonesia. Mungkin pas lagi lewat di kampung deket rumah, ada yang nyetel lagu India itu kenceng2, jadinya masih inget gimana bunyinya (ini fenomena biasa yang aku alami pas pulang sekolah). Makanya aku sebenernya nggak terlalu suka lagu India. Tapi pas denger suara Bu Farhana yg keren abis, persis banget sm penyanyi2 India perempuan lainnya, yg bisa nada tinggi2 gtu......aku jadi menikmati lagu2 India.
.
Di sana juga ada muslimah yang sudah usia lanjut. Ada juga ibu2 yang sudah tua, dan sakit, datang ke pesta itu sambil membawa tabung oksigen beserta selang2nya. Aku terpana ngeliat mereka yg sampe mbela2in dateng ke situ padahal udara di luar dingin banget (sekitar 45an derajat Fahrenheit) dan rumah mereka nggak begitu deket. Dan padahal mereka tahu, kalo di party itu mereka nggak akan banyak ngelakuin apa2, karena henna dan nyanyi2an biasa dilakuin sama yg masih muda. Aku coba ngobrol2 sama mereka. Dari situ aku tahu kalo mereka tinggal di sini udah lama. Sebagian di sini masih baru. Sebagian dr mereka ikut anaknya yang tinggal di sini. Dari kata2 mereka, aku tahu kalo mereka adalah orang2 hebat.
.
Anyway, pelukis henna yang dibayar Bu Farhana itu terampil banget. Aku dapet lukisan burung merak di tangan kananku, dan nggak tau motif apa di tangan kiriku. Sampai sekarang aku jadi sering ngeliatin tanganku...... hum.. jadi berasa pake tato.
.

Henna party bebas cowok itu akhirnya selesai sekitar jam 11 maleman. Habis bantu2 Bu Farhana bersih2in rumahnya, aku sleep over di sana. Sekamar sama Haadea. Burhan dan Aleena, saudara2 Haadea yg masih imut2 itu tidur sekamar sama kami. Sebelum tidur, kami ngebersihin Henna yang masih menempel di tangan-tangan kami. Terus ngelumurin tangan2 kami pake air gula. Katanya sih supaya Henna nya tahan lama, dan bisa meresap ke kulit selama 2-3 minggu. Sadar kalo semaleman itu bapaknya Haadea nggak di rumah, aku nanya ke dia ke mana bapaknya. Kata Haadea, bapaknya lagi di rumah sakit. Beliau adalah dokter transplantasi jantung untuk anak2 gitu, jadi nggak ada kata "liburan" dalam kamus kerja bapaknya. Banyak pasien emergensi yang mesti ditangani, meskipun H-1 lebaran kayak gini.... Dalam hati, aku bergumam, hebat juga ya. Aku yakin bapaknya adalah pekerja keras banget. Kelihatan dari hasil jerih payah kerjanya..... secara materi, rumah Haadea lumayan besar, hangat, dan perabotannya berkualitas sangat baik untuk ukuranku.
.
Akhirnya kami tertidur pulas. Pagi2nya, kami dibangunkan oleh bapaknya Haadea, yang udah rapi dengan pakaian kantornya. I guess bapaknya tidur paling malem dan bangun paling pagi. Jadi inget sama bapak di rumah, yang sama..... begitu juga. Burhan dan Aleena agak susah dibangunkan, makanya mesti ditarik2 dan diteriakin dulu sama Bu Farhana. Hehe. Jadi teringat sama ibu di rumah. Aleena dan Burhan yang imut2 itu akhirnya berdiri juga setelah Bu Farhana bilang, "Come on Burhan, Aleena, dont make me yell. You dont want me to show my bad side to Kartika right?". Lalu, Haadea juga bangun dan mandi. Setelah itu, gantian aku yang mandi. Burhan dan Aleena disuruh mandi juga sama Bu Farhana tapi mereka nggak mau mandi di kamar mandi lama. Mereka maunya di kamar mandi baru. Tapi kata Bu Farhana, kamar mandi baru buat aku, soalnya aku tamu di rumah itu. Aku jadi berada di posisi antara mau ngalah sama Burhan & Aleena, tapi aku nggak bisa nolak Bu Farhana juga. Mungkin Bu Farhana lagi ngajarin putera-puterinya ttg bagaimana menghormati tamu. Kelak kedua anak manis itu akan menjadi besar seperti muslim-muslimah dewasa lainnya yg super hormat sama tamu, pikirku (jujur, selama di sini, aku bisa menyimpulkan kalo orang Amrik yg paling menghormati dan melayani tamu adalah orang2 muslim). Kuberi aja Burhan & Aleena sepulas senyuman. Akhirnya Burhan dan Aleena mau mandi juga di kamar mandi lama.
.
Setelah selesai mandi, semua org di rumah dandan dan berpakaian sangat rapi, bersih dan indah. Haadea, memakai baju India warna hijau dominan dan blue-stripes di lengannya. Ada kaca2nya gtu di bajunya, kayak rok India kaca2 yg pernah kulihat dulu waktu lagi jalan2 sama Pak Agus di factory outlet di Bogor. Terus Burhan, pake kemeja koko coklat tua yg panjang selutut dengan motif2 di kerahnya. Bu Farhana pake baju warna hijau juga, hampir sama kayak Haadea. Aku sendiri memakai baju yg modelnya hampir sama kayak Haadea's, tapi berwarna ungu tua ngejreng, beserta selendang motif2nya, yg dibawain ibu dari Indonesia. Baju ini dulunya baju ibu, dan di Indonesia model baju seperti ini dibilangnya baju ibu2 arisan. Tapi di amrik, baju2 kayak gini yg tradisional, malah dibilang cantik. Makanya aku bersyukur banget dibawain baju ibu2 sama ibu dari Indonesia. Aku jadi punya beberapa pasang baju yg bisa kupake untuk acara2 resmi dan spesial kayak gini.
.
Dan lagi2, bapaknya Haadea nggak kelihatan. Setelah kutanya, kata Haadea bapaknya balik lagi ke rumah sakit, untuk nengok salah satu pasiennya dan ngecek kondisinya. Bapaknya bakal ke mesjid sekitar jam 10an, ketika solat Eidnya udah mau mulai. Sekitar jam 9.30an akhirnya kami siap berangkat juga. Di bagasi mobil, sudah tersimpan sekardus gede kado2 Eid buat temen2 Haadea yg udah dibungkus kertas kado dengan rapi, dan juga Party Pinata yang merupakan sebungkus karton gede berbentuk duri, yang isinya permen2 serta alat tulis sekolah. Party Pinata ini adalah tradisi org Pakistan-India pas lebaran. Party Pinata biasanya digantung pake tali, terus anak2 kecil dikasih satu kali kesempatan untuk mecahin Party Pinata pake tongkat kayu sambil matanya ditutup. Mereka bergantian mukul sampai Pinatanya pecah. Sekali Pinatanya pecah, anak2 berebut ngambilin permennya. Tahun ini, gantian keluarganya Haadea yg dapet giliran bikin Pinata. Hmm.. jadi inget lomba mecahin balon pake tongkat pas perayaan 17 Agustusan di deket rumah. Bedanya, di dalem balonnya nggak ada permen, adanya air.
.
(bersambung insyaAllah...)
.
next story:
.
*cerita lebaranku di masjid sunni Pakistan-India, Baitul Ahad
*cerita lebaranku bersama orang2 Indonesia di Cleveland
*cerita sungkemanku sama host parents
*cerita fortune-cookies pertamaku pas chinese dinner brg hostfam di hari Eid
0 comments: to “ cerita lebaran pertamaku di amerika (1) ”
Post a Comment